Urtikaria Surya: Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

MasdoniOleh Masdoni
17, Agustus, 2026 13:33:00 โ€ข โฑ 6 menit baca
Urtikaria Surya: Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

Baru lima belas menit berjemur atau jalan di bawah terik matahari, kulit tiba-tiba bentol-bentol merah dan gatal luar biasa. Bukan biang keringat biasa โ€” bentolnya muncul persis di area yang kena sinar matahari, lalu hilang sendiri setelah menjauh dari panas. Kalau ini pengalaman kalian, kemungkinan kalian mengalami urtikaria surya โ€” alias alergi matahari, kondisi di mana kulit bereaksi berlebihan terhadap paparan sinar matahari.

Kedengarannya aneh โ€” alergi terhadap matahari? Tapi kondisi ini nyata dan dialami cukup banyak orang, terutama di negara tropis seperti Indonesia yang mataharinya bersinar sepanjang tahun. Kabar baiknya, kondisi ini bisa dikelola dengan baik begitu kalian paham pemicunya. Yuk, kenali penyebab, gejala, dan cara mengatasinya.

Apa Itu Urtikaria Surya?

Urtikaria adalah istilah medis untuk biduran โ€” bentol-bentol merah yang gatal. Urtikaria surya (solar urticaria) adalah biduran yang dipicu specifically oleh paparan sinar matahari, baik sinar UV maupun cahaya tampak. Berbeda dengan sunburn (kulit terbakar matahari) yang bisa dialami siapa saja kalau kelamaan berjemur, urtikaria surya hanya terjadi pada orang yang sensitif โ€” dan bisa muncul hanya dalam hitungan menit setelah terpapar.

Mekanismenya diduga seperti ini: pada penderita, sinar matahari mengubah suatu zat di kulit menjadi "alergen" โ€” zat yang dianggap asing oleh sistem kekebalan tubuh. Sistem imun lalu bereaksi dengan melepaskan histamin, zat kimia yang menyebabkan pembuluh darah melebar dan cairan merembes ke jaringan kulit. Hasilnya: bentol merah yang gatal. Pada sebagian orang, pemicunya adalah UVB; pada yang lain UVA atau cahaya tampak. Tes khusus di klinik kulit bisa menentukan jenis cahaya mana yang menjadi pemicu.

Penyebab dan Faktor Risikonya

Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami, tapi ada beberapa faktor yang diduga berperan. Faktor genetik: kondisi ini bisa menurun dalam keluarga โ€” kalau orang tua punya riwayat alergi matahari, anaknya berisiko lebih tinggi. Obat-obatan tertentu juga bisa memicu fotosensitivitas (kulit jadi sensitif terhadap cahaya), misalnya beberapa jenis antibiotik, obat tekanan darah, dan obat antiinflamasi. Kalau biduran matahari kalian muncul setelah mulai minum obat baru, diskusikan dengan dokter.

Kosmetik dan parfum tertentu yang mengandung zat kimia fotosensitif juga bisa menjadi pemicu โ€” ini yang kadang disebut reaksi fotokontak. Lalu ada kaitan dengan penyakit lain: pada sebagian kecil kasus, urtikaria surya berkaitan dengan kondisi sistemik seperti lupus. Makanya kalau gejalanya berat atau tidak biasa, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan lebih lanjut. Usia juga berpengaruh: kondisi ini paling sering muncul pada dewasa muda, meski bisa terjadi di usia berapa pun.

Gejalanya Seperti Apa?

Gejala khasnya: bentol-bentol merah (biduran) yang gatal, muncul di area kulit yang terpapar sinar matahari dalam waktu beberapa menit setelah paparan. Wajah, leher, lengan, dan punggung tangan adalah lokasi favorit โ€” area yang biasanya tidak tertutup pakaian. Bentolnya bisa kecil-kecil atau menyatu menjadi area yang lebih luas. Rasa gatalnya bisa ringan sampai sangat mengganggu, kadang disertai sensasi terbakar atau perih.

Yang khas dari urtikaria surya: bentolnya hilang sendiri dalam waktu kurang dari sehari setelah kalian menjauh dari matahari โ€” biasanya dalam beberapa jam โ€” tanpa meninggalkan bekas. Kalau bentolnya bertahan lebih dari dua puluh empat jam atau meninggalkan bekas kehitaman, kemungkinan itu bukan urtikaria surya melainkan kondisi kulit lain. Pada kasus yang berat, paparan matahari yang luas bisa memicu gejala sistemik: pusing, mual, bahkan sesak napas โ€” kalau ini terjadi, segera cari pertolongan medis.

Cara Mengatasi Saat Biduran Muncul

Kalau bentolnya sudah telanjur muncul, langkah pertama: segera menjauh dari sinar matahari, masuk ke ruangan yang teduh dan sejuk. Kompres dingin area yang bentol-bentol โ€” handuk dingin atau es yang dibungkus kain โ€” untuk meredakan gatal dan panasnya. Jangan digaruk! Menggaruk memang memuaskan sesaat, tapi justru memicu pelepasan histamin lebih banyak sehingga bentolnya makin parah dan bisa lecet terinfeksi.

Antihistamin yang dijual bebas bisa membantu meredakan gatal dan mempercepat hilangnya bentol. Minum sesuai aturan pakai pada kemasan. Untuk kasus yang sering kambuh, dokter mungkin meresepkan antihistamin untuk diminum rutin sebagai pencegahan โ€” terutama sebelum aktivitas yang tidak bisa menghindari matahari. Pada kasus berat yang tidak membaik dengan antihistamin biasa, dokter kulit bisa menawarkan terapi lain seperti fototerapi terkontrol (melatih kulit perlahan terhadap cahaya) atau obat-obatan khusus. Jangan mencoba terapi sendiri tanpa panduan dokter.

Pencegahan: Bersahabat dengan Matahari Tanpa Tersiksa

Kuncinya adalah perlindungan berlapis. Pertama, tabir surya: pakai sunscreen dengan SPF minimal tiga puluh dan perlindungan broad spectrum (melawan UVA dan UVB), oleskan dua puluh menit sebelum keluar rumah, dan oles ulang setiap dua jam โ€” atau lebih sering kalau berkeringat atau berenang. Pilih yang cocok untuk kulit sensitif supaya tidak malah memicu iritasi.

Kedua, pakaian pelindung: baju lengan panjang berbahan adem, topi bertepi lebar, dan kacamata hitam. Sekarang ada pakaian dengan perlindungan UV khusus (UPF) yang adem dipakai di iklim tropis. Ketiga, atur waktu: hindari aktivitas luar ruangan saat matahari paling terik, biasanya antara jam sepuluh pagi sampai tiga sore. Kalau harus keluar, cari rute yang teduh.

Keempat, periksa obat dan kosmetik yang kalian pakai โ€” tanyakan ke dokter atau apoteker apakah ada yang menyebabkan fotosensitivitas. Kelima, untuk yang gejalanya berat, diskusikan dengan dokter kulit soal "pengerasan" kulit lewat paparan cahaya terkontrol di klinik โ€” terapi ini melatih kulit agar lebih tahan terhadap matahari secara bertahap.

Bedakan dengan Kondisi Kulit Lain

Urtikaria surya sering tertukar dengan beberapa kondisi lain. Biang keringat (miliaria) juga gatal dan muncul saat panas, tapi berupa bintik-bintik kecil dan tidak spesifik hanya di area terpapar matahari langsung. Sunburn menyebabkan kulit merah, panas, dan perih โ€” tapi tidak berupa bentol-bentol gatal yang hilang dalam hitungan jam, dan sunburn butuh waktu berhari-hari untuk sembuh.

Polymorphic light eruption (PMLE) mirip tapi ruamnya bertahan berhari-hari dan sering meninggalkan bekas. Lupus kulit juga bisa memburuk karena matahari, tapi gejalanya berbeda dan butuh diagnosis dokter. Kalau kalian tidak yakin kondisi kalian yang mana, jangan mendiagnosis sendiri โ€” periksakan ke dokter kulit. Diagnosis yang tepat menentukan pengobatan yang tepat.

Kapan Harus ke Dokter?

Periksakan ke dokter kulit kalau biduran matahari sering kambuh dan mengganggu aktivitas, tidak membaik dengan antihistamin biasa, atau disertai gejala sistemik seperti pusing dan sesak napas. Segera cari pertolongan darurat kalau setelah terpapar matahari muncul sesak napas, wajah membengkak, atau pingsan โ€” itu bisa jadi reaksi alergi berat.

Dokter mungkin melakukan fototes โ€” memaparkan kulit ke berbagai jenis cahaya dalam dosis terkontrol untuk memastikan diagnosis dan menemukan pemicu spesifiknya. Informasi ini sangat berharga untuk strategi pencegahan jangka panjang. Bawa catatan: kapan biduran muncul, berapa lama terpapar, dan obat apa yang sedang dikonsumsi. Catatan sederhana ini sangat membantu dokter menegakkan diagnosis.

Akhir Kata

Jadi, alergi matahari alias urtikaria surya memang merepotkan โ€” apalagi di negara tropis โ€” tapi bukan vonis untuk menghindari matahari selamanya. Dengan perlindungan yang tepat (sunscreen, pakaian pelindung, pengaturan waktu), penanganan yang benar saat kambuh (menjauh dari matahari, kompres dingin, antihistamin), dan konsultasi dokter untuk kasus yang berat, kalian tetap bisa beraktivitas normal di bawah langit Indonesia yang cerah. Mataharinya tetap bisa dinikmati โ€” asal dengan strategi yang cerdas.

Artikel Terkait

Lihat Semua โ†’