Amandel Bernanah: Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

MasdoniOleh Masdoni
03, Februari, 2026 22:00:00 โ€ข โฑ 6 menit baca
Amandel Bernanah: Penyebab, Gejala & Cara Mengatasi

Anak demam tinggi, mengeluh sakit saat menelan, dan pas kalian intip ke dalam mulutnya โ€” ada bercak putih kekuningan menempel di amandelnya. Jantung orang tua mana yang tidak khawatir melihat itu? Kondisi ini dikenal sebagai amandel bernanah, alias radang amandel (tonsilitis) yang disertai nanah. Kedengarannya seram, tapi kabar baiknya: sebagian besar kasus bisa sembuh total dengan penanganan yang tepat.

Yang penting, kalian tahu cara membedakan radang amandel biasa dengan yang bernanah, paham penyebabnya, dan tahu kapan perawatan rumahan cukup dan kapan harus angkat tangan ke dokter. Semua akan dibahas di sini โ€” santai saja, tidak pakai bahasa kedokteran yang bikin dahi berkerut.

Amandel Itu Apa dan Kenapa Bisa Bernanah?

Amandel (tonsil) adalah dua gumpalan jaringan di kanan-kiri tenggorokan bagian belakang. Fungsinya? Benteng pertahanan pertama tubuh. Amandel menangkap kuman โ€” virus dan bakteri โ€” yang masuk lewat mulut dan hidung, lalu sistem imun di sana melawannya. Pada anak-anak, amandel bekerja ekstra keras karena daya tahan tubuhnya masih belajar mengenali musuh.

Masalah muncul ketika serangannya terlalu banyak atau kumannya terlalu kuat. Amandel yang kewalahan akhirnya meradang, membengkak, dan pada infeksi tertentu terbentuk nanah โ€” kumpulan sel darah putih yang gugur di medan perang melawan kuman, plus sisa-sisa kuman yang mati. Bercak putih kekuningan itulah yang kalian lihat sebagai "nanah" pada amandel.

Penyebab Amandel Bernanah: Virus atau Bakteri?

Dua biang kerok utama: virus dan bakteri. Infeksi virus โ€” misalnya virus flu atau virus Epstein-Barr โ€” adalah penyebab tersering radang amandel secara umum. Tapi kalau sudah sampai bernanah, kecurigaan lebih mengarah ke bakteri, terutama Streptococcus pyogenes alias streptokokus grup A, biang kerok radang tenggorokan yang terkenal itu.

Bedanya penting karena pengobatannya beda: infeksi bakteri butuh antibiotik dari dokter, sedangkan infeksi virus tidak mempan diberi antibiotik dan umumnya sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh. Inilah kenapa kalian tidak boleh asal minum antibiotik sisa โ€” kalau penyebabnya virus, antibiotiknya mubazir dan malah berisiko bikin kuman kebal.

Faktor pemicunya dekat dengan kehidupan sehari-hari: kelelahan, kurang tidur, daya tahan tubuh turun, tertular dari orang yang sedang batuk-pilek, sampai kebiasaan jajan sembarangan. Anak sekolah adalah kelompok paling sering kena, karena mereka berinteraksi dekat dengan banyak teman setiap hari.

Gejalanya Seperti Apa?

Gejala klasiknya: sakit tenggorokan yang hebat sampai susah menelan โ€” bahkan menelan ludah pun perih. Demamnya biasanya tinggi, bisa di atas tiga puluh delapan derajat. Amandel tampak merah, bengkak, dan ada bercak putih atau kuning. Kelenjar getah bening di leher ikut membesar dan nyeri saat disentuh.

Gejala tambahannya: bau mulut tidak sedap (akibat nanah), suara serak atau bindeng, sakit kepala, dan pada anak kecil bisa disertai mual, muntah, atau sakit perut. Anak juga biasanya jadi rewel, tidak mau makan, dan lemas. Kalau gejalanya sudah lengkap seperti ini, kemungkinan besar memang tonsilitis โ€” tinggal memastikan penyebabnya virus atau bakteri lewat pemeriksaan dokter.

Perawatan di Rumah yang Aman Dilakukan

Untuk meredakan gejala sambil menunggu sembuh, ada beberapa langkah aman. Pertama, istirahat total dan banyak minum air putih hangat. Cairan menjaga tenggorokan tetap lembap dan membantu mengencerkan lendir. Hindari minuman dingin dan bersoda yang bisa mengiritasi tenggorokan lebih jauh.

Kedua, kumur air garam hangat โ€” setengah sendok teh garam dilarutkan dalam segelas air hangat, kumur beberapa kali sehari. Cara jadul ini terbukti membantu mengurangi nyeri dan membersihkan area tenggorokan. Untuk anak yang sudah cukup besar dan bisa berkumur tanpa menelan, ini aman dilakukan.

Ketiga, makanan yang lembut dan tidak mengiritasi: bubur, sup hangat, atau buah yang lembut. Hindari gorengan, makanan pedas, dan yang bertekstur kasar. Keempat, untuk demam dan nyeri, obat penurun panas bebas yang dijual di apotek bisa membantu โ€” tapi ikuti aturan pakai di kemasan dan jangan melebihi dosis anjuran.

Jangan Pernah Lakukan Ini!

Ada satu godaan besar yang harus dilawan: mengorek atau memencet nanah di amandel pakai jari, cotton bud, atau alat apapun. Eits, jangan! Tindakan ini tidak menyembuhkan โ€” justru berisiko melukai jaringan, mendorong infeksi menyebar lebih dalam, dan memasukkan kuman baru dari tangan kalian. Biarkan nanahnya hilang seiring infeksi yang teratasi.

Kesalahan kedua: minum antibiotik tanpa resep dokter. Selain berisiko salah sasaran (kalau penyebabnya virus), penggunaan antibiotik sembarangan bisa memicu resistensi โ€” kondisi di mana kuman jadi kebal dan infeksi berikutnya jauh lebih sulit diobati. Kesalahan ketiga: memaksa anak makan makanan biasa yang keras dan pedas "biar kuat" โ€” tenggorokan yang meradang butuh kelembutan, bukan tantangan.

Kapan Harus ke Dokter? Ini Tandanya

Segera ke dokter kalau demam tinggi tidak turun setelah dua tiga hari perawatan rumahan, nyeri tenggorokannya sangat hebat sampai anak tidak bisa menelan sama sekali (bahkan air liur), atau ada nanah yang jelas terlihat di amandel. Dokter mungkin akan melakukan tes usap tenggorokan (swab) untuk memastikan apakah penyebabnya bakteri streptokokus.

Kalau terbukti infeksi bakteri, dokter akan meresepkan antibiotik โ€” dan ini penting โ€” habiskan sampai tuntas meski gejalanya sudah membaik dalam dua tiga hari. Infeksi streptokokus yang tidak tuntas berisiko menimbulkan komplikasi serius seperti demam rematik yang menyerang jantung dan ginjal. Jangan main-main dengan yang satu ini.

Ke IGD segera kalau anak sesak napas, ngiler terus karena tidak bisa menelan, suaranya seperti berkumur-kumur, atau lehernya kaku dan bengkak hebat โ€” itu bisa tanda abses peritonsil (kantong nanah di sekitar amandel) yang butuh penanganan segera.

Operasi Amandel: Kapan Dipertimbangkan?

Banyak orang tua langsung parno mendengar kata operasi. Tenang dulu โ€” operasi angkat amandel (tonsilektomi) tidak dilakukan untuk satu dua kali radang. Dokter biasanya mempertimbangkannya kalau radangnya kambuh berulang โ€” misalnya tujuh kali dalam setahun, atau lima kali per tahun selama dua tahun berturut-turut โ€” atau kalau amandelnya membesar sampai mengganggu napas dan tidur (mendengkur berat, bahkan sleep apnea).

Kabar baiknya, operasi ini termasuk prosedur rutin dengan tingkat keberhasilan tinggi, dan anak-anak umumnya pulih dalam satu dua minggu. Setelah amandel diangkat, tubuh tetap punya sistem pertahanan lain, jadi jangan khawatir imunitasnya "hilang". Keputusan operasi selalu didiskusikan matang antara dokter, orang tua, dan kondisi anak โ€” tidak ada yang terburu-buru.

Biar Tidak Kambuh Lagi

Pencegahan kuncinya ada di daya tahan tubuh dan kebersihan. Biasakan anak cuci tangan pakai sabun, terutama sebelum makan dan setelah dari toilet atau bermain. Ajari etika batuk-bersin yang benar, dan hindari berbagi gelas atau sendok dengan orang yang sedang sakit.

Dari sisi nutrisi: pastikan asupannya seimbang โ€” buah, sayur, protein cukup โ€” dan tidurnya berkualitas. Anak yang kurang tidur daya tahannya gampang drop. Batasi jajan sembarangan dan minuman dingin berlebihan, terutama saat cuaca tidak menentu. Terakhir, kalau ada anggota keluarga yang sedang radang tenggorokan, jaga jarak dulu sementara โ€” kuman streptokokus menular lewat percikan ludah.

Akhir Kata

Intinya: amandel bernanah memang terlihat mengkhawatirkan, tapi ia adalah infeksi yang umum dan bisa disembuhkan โ€” asalkan ditangani dengan benar. Ingat tiga jurus pamungkasnya: rawat gejalanya di rumah dengan cara yang aman, jangan pernah mengorek nanahnya atau minum antibiotik sendiri, dan segera ke dokter kalau gejalanya berat atau tidak membaik. Dengan begitu, si kecil bisa kembali ceria dan lahap makan seperti sedia kala!

Artikel Terkait

Lihat Semua โ†’